Hanya Karena WajahNya…



Oleh Agung Abu Ibrahim, S.Pd.I

Redaktur di PT. EFMS



Sungguh Maha Besar Allah yang telah memberikan nikmat serta rahmatnya kepada seluruh hamba-hambanya dengan menjadikan setiap amalan terdapat didalamnya niat. Dan sungguh Allah Maha Luas Ilmunya yang dimana tidak sesuatu pun tersembunyi dari pengetahuan dan pengelihatanNya. Sebagaimana dalam firmanNya,

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui". Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”(QS. Ali Imran: 29)

Wahai saudaraku…tidaklah terdapat suatu amalan entah itu merupakan amalan baik ataupun amalan buruk kecuali terdapat pula didalamnya niat. Karena niat adalah suatu penentu dari hasil suatu amalan yang dilakukan oleh anak cucu Adam. Karena niat merupakan suatu pembeda antara berbagai macam amalan.

Bicara tentang niat, Imam an-Nawawi berkata; “bahwasannya niat letaknya adalah didalam hati. Dan niat tempatnya bukanlah pada lisan dalam setiap amal perbuatan, oleh karenanya barangsiapa melafazhkan niat ketika berkeinginan untuk mendirikan shalat, puasa, haji, atau berwudhu, serta amalan-amalan lainnya, maka hal ini merupakan perbuatan yang tidak ada dasar dan contohnya dari Rasulullah dan telah mengada-ada dalam urusan Agama yang telah disempurnakan oleh Allah ini.


Baca juga Iman itu Sabar & Syukur


Wahai saudara-saudariku… perlu kita pahami bersama bahwa niat juga tidak pernah lepas dari kata ikhlas. Tidak semua niat bisa dikatakan ikhlas, akan tetapi ikhlas adalah sebuah niat yang sangat dibutuhkan ketika seorang hamba akan beramal shalih. Misalnya saja dalam ibadah, tidak akan diterima ibadah seorang hamba tanpa adanya ikhlas, karena ikhlas merupakan syarat agar diterimanya ibadah seorang hamba. Dan jika seorang hamba melakukan suatu amalan tanpa adanya ikhlas maka sia-sialah amalannya tersebut. Lihatlah sabda Rasulullah,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya seseorang itu akan mendapatkan (ganjaran) sesuai dengan apa yang diniatkannya” (Muttafaq ‘alaihi)



Berkata syaikh al-Utsaimin; bahwa hadits diatas terdapat dua kalimat yang berbeda makna atau lebih tepatnya yaitu kalimat sebab-akibat. Yang pertama, yaitu pada kalimat “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya”. Syaikh berkata kalimat ini merupakan sebab. Karena di setiap amalan harus disertai dengan adanya niat!, dan tidak mungkin seorang yang berakal sehat serta tidak dalam keadaan dipaksa ketika beramal dia tidak berniat. Sedangkan yang kedua, yaitu kalimat “dan sesungguhnya seseorang itu akan mendapatkan (ganjaran) sesuai dengan apa yang diniatkannya”. Ini merupakan akibat atau hasil. Ya, jika seorang berniat dalam beribadah ikhlas karena mengharap wajah Allah semata maka amalan tersebut tidaklah sia-sia, akan tetapi jika ia berniat untuk mendapatkan kesenangan dunia yang sejatinya itu kenikmatan yang menipu, maka amalannya sungguh sia-sia dan belum tentu ia mendapatkan kesenangan yang menipu tersebut!.

Perhatikanlah wahai saudara-saudariku, sangat banyak firman-firman Allah yang menjelaskan serta memberikan kita peringatan agar kita jangan sampai tertipu oleh yang namanya kenikmatan dunia. Diantaranya firman Allah,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

“tidaklah kehidupan dunia ini kecuali hanya permainan dan senda gurau, Dan sungguh kehidupan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?.” (QS. al-An’am; 32 )

Dan firman Allah,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. al-Hadid; 20)

Serta firman Allah dalam surat ar-Rahman ayat yang ke 26,

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“dan segala sesuatu didunia ini akan binasa, dan hanya wajah Rabbmulah yang memiliki kebesaran serta kemuliaan yang akan tetap kekal.” (QS. ar-Rahman; 26-27).

Jika telah jelas mana yang tetap kekal, mengapa kita memilih sesuatu yang tidak kekal?.

Wahai Saudara-saudariku…. Segala yang kita perbuat dalam kehidupan sehari-hari kita bisa saja menjadi nilai ibadah disisi Allah. Dikarenakan sejatinya pengertian daripada ibadah adalah seluruh perbuatan amal ataupun ucapan yang dicintai serta diridhoi oleh Allah, baik itu bersifat lahiriyah ataupun batiniyah.




Dan ibadah dapat diterima apabila terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu:

1.      Ikhlas
Allah berfirman,
“Tidaklah mereka tidak diperintahkan kecuali supaya mereka menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. dan yang demikian itulah agama yang lurus.”(al-Bayyinah: 5)

Yaitu meniatkan segala amalan kebaikan hanya karena mengharap wajah Allah, bukan karena ingin pujian orang serta kenikmatan duniawi! Mengapa begitu?!, perhatikanlah firman Allah,

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki pula” (al-Isra’: 18)

Dari ayat diatas kita mengetahui bahwa sejatinya barangsiapa yang menginginkan kehidupan duniawi saja, maka terkadang dia mendapatkannya dan terkadang pula dia tidak mendapatkan apa-apa, karena duniawi memang menipu. Lain halnya dengan kehidupan Akhirat, maka dia pasti mendapatkan apa yang dia usahakan sewaktu hidup didunia. Sebagaimana firman Allah,

وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُوراً

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha untuk mendapatkannya dengan sungguh-sungguh, dan dia seorang mu'min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya pasti dibalas dengan baik”(al-Isra’: 19)

2.      Ittiba’
Ittiba’ artinya adalah mengikuti, maksudnya yaitu mengikuti segala apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Karena jika kita beribadah tanpa mengikuti contoh dari Rasulullah pastilah tertolak. Sebagaimana Sabda beliau, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan (ibadah) yang tidak ada contohnya dari kami (Syari’at) maka dia tertolak (amalannya).” (Muttafaq alaihi)

Saudara-saudariku yang dimuliakan Allah… Begitulah pentingnya niat, niat yang ikhlas tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang yang beriman. Semoga kita digolongkan oleh Allah kedalam orang-orang yang beriman serta ikhlas dalam beramal shalih. Amin… Wal hamdulillah wallahu a’lam.

Rajab 1435, Abu Ibrohim Al-Bihary

Referensi:
  1. Al-Quran Al-Karim
  2. Al-Maktabah Asy-Syamilah
  3. Syarh Riyadush Shalihin min Kalaami Sayyidil Mursalin; Imam An-Nawawi


https://www.facebook.com/notes/793449687339446/


Ngaji juga ya di www.quantumfiqih.com dan quantumfiqih.wordpress.com.




Tags: Ormas Islam Induk di Indonesia, Jami’ah Khairiyah, Al-Irsyad Al-Islamiyah, Masyumi, Syarikat Islam Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam PERSIS, Nahdlatul Wathan, Pelajar Islam Indonesia PII, Lembaga Dakwah Islam Indonesia LDII, Jam’iyah Al-Washliyah, Rabithah ‘Alawiyah, Front Pembela Islam FPI, Hizbut Tahrir Indonesia HTI, Mathla’ul Anwar MA, Jam’iyah Al-Ittihadiyah, Hidayatullah, Al-Wahdah Al-Islamiyah, Majelis Tafsir Al-Quran MTA, Harakah Sunniyah Untuk Masyarakat Islami HASMI, Persatuan Tarbiyah Islamiyah PERTI, Persatuan Ummat Islam PUI,  Shiddiqiyah, Wahidiyah. 

Related

Akhlaq 4598211621095923058

Posting Komentar

Komentar Anda sangat berharga bagi kami. Jika Anda mendukung gerakan kami, sampaikan dengan penuh motivasi. Jangan lupa, doakan kami agar istiqamah beramal dan berdakwah. Klik juga www.quantumfiqih.com dan goldenmanners.blogspot.co.id

emo-but-icon

Hot in week

Random Post

Cari Blog Ini

Translate

Total Tayangan Halaman

Our Visitors

Flag Counter

Brilly Quote 1

Brilly Quote 2

Brilly Quote 3

item