Tradisi Talbis Ternyata Lebih Laris Manis


Oleh Brilly El-Rasheed, S.Pd.
Penggagas The Golden Manners Way



Saya menyimpulkan dari sekian lama saya mengamati, entah mengapa manusia itu punya watak lebih suka kepada sesuatu yang sudah diinovasi daripada sesuatu yang asli sebagaimana adanya. Lebih tegasnya, mayoritas manusia suka dengan hal-hal yang dipoles sehingga bernuansa syar’i daripada hal-hal yang “standar” sebagaimana syariah menetapkannya.
Misalnya: Pertama, sebagian manusia, tidak hanya wanita tapi juga pria, lebih suka dengan kerudung inovatif beragam model yang dewasa ini disebut-sebut dengan tren hijab modern padahal malah menampakkan auratnya karena pakaian atasan dan bawahannya tipis menerawan, misalnya, di sisi yang lain mereka benci atau minimalnya risih dengan hijab yang sesuai standar Al-Qur`an dan As-Sunnah sesuai fiqih para ulama madzhab. 
Kedua, sebagian manusia lebih suka berbisnis melalui framework/platform dakwah kemudian mengatasnamakan bisnisnya sebagai infaq atau bentuk kepedulian sosial, akan tetapi mereka kurang tertarik jika menjalankan lembaga dakwah murni untuk dakwah dan kepedulian sosial. Pada dasarnya mereka ingin meraup untung lebih banyak jika berbisnis atas nama infaq, padahal yang mereka kejar adalah profit finansial belaka, atau minimalnya dipandang sebagai pejuang Islam yang shalih.


Ketiga, sebagian manusia memandang halal khamr yang digunakan untuk tujuan menciptakan kekhusyu’an meskipun mereka tetap memandang haram khamr yang untuk tujuan mabuk-mabukan. Keempat, sebagian manusia bersyukur ketika berhasil menghelat konser musik bertajuk dakwah-sosial, tapi ketika diminta berkontribusi dalam acara pengajian/majelis taklim mereka tidak begitu semangat.  
Kelima, sebagian manusia lebih mantap kalau berdoa kepada Allah disertai dengan meminta kepada orang-orang yang sudah wafat, daripada berdoa hanya kepada Allah semata, dengan keyakinan lebih mustajab karena orang-orang yang sudah wafat itu dekat dengan Allah dan Allah lebih butuh perantara, berupa manusia, sebagaimana butuhnya seorang pimpinan terhadap resepsionis/penerima tamu. 
Kelima contoh tersebut mungkin sangat manis terasa dalam pandangan pelakunya yang terkena jerat-jerat talbis syaithani. Apakah kita termasuk yang demikian? Kesimpulan ini bukan berarti justise terhadap semua orang, melainkan saya maksudkan sebagai bahan renungan untuk menguji keikhlashan kita. Jadi jangan tersinggung, tapi mari evaluasi hari-hari kemarin. Saya juga tidak menuding bukan? 




Tags: Ormas Islam Induk di Indonesia, Jami’ah Khairiyah, Al-Irsyad Al-Islamiyah, Masyumi, Syarikat Islam Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam PERSIS, Nahdlatul Wathan, Pelajar Islam Indonesia PII, Lembaga Dakwah Islam Indonesia LDII, Jam’iyah Al-Washliyah, Rabithah ‘Alawiyah, Front Pembela Islam FPI, Hizbut Tahrir Indonesia HTI, Mathla’ul Anwar MA, Jam’iyah Al-Ittihadiyah, Hidayatullah, Al-Wahdah Al-Islamiyah, Majelis Tafsir Al-Quran MTA, Harakah Sunniyah Untuk Masyarakat Islami HASMI, Persatuan Tarbiyah Islamiyah PERTI, Persatuan Ummat Islam PUI,  Shiddiqiyah, Wahidiyah. 




Related

Aqidah 4918664022907365127

Posting Komentar

Komentar Anda sangat berharga bagi kami. Jika Anda mendukung gerakan kami, sampaikan dengan penuh motivasi. Jangan lupa, doakan kami agar istiqamah beramal dan berdakwah. Klik juga www.quantumfiqih.com dan goldenmanners.blogspot.co.id

emo-but-icon

Hot in week

Random Post

Blog Archive

Cari Blog Ini

Translate

Total Tayangan Halaman

Our Visitors

Flag Counter

Brilly Quote 1

Brilly Quote 2

Brilly Quote 3

item