Bukan Ahli Maksiat




Setiap orang yang bergulat dengan aneka ragam penyakit, sah-sah saja untuk menukas, bahwa sakit yang dia derita adalah yang paling sulit untuk ditahan, paling pedih,  paling memburai rasa perih yang menyengat kuat.  Bila yang datang sakit gigi, penyakit itu diklaim sebagai penyakit paling mengerikan. Bila kebetulan rongga telinga yang bernanah, rasa sakitnya dianggap yang paling  pamungkas. 
Semua klaim itu mungkin saja absah, selama tidak ada alat ukur yang akurat, untuk menilai daya hentak suatu penyakit,  dan kesan kejut dari rasa pedih yang diderita seorang pasien penyakit tertentu.  Tapi percayalah, saudara seiman,  sejatinya tak ada rasa sakit yang melebihi tikaman rasa penyesalan dalam dada seorang muslim, akibat terlanjur berbuat maksiat.

Penyesalan yang menggemuruh, ditambah dengan tingkat kesulitan yang super hebat untuk berupaya selalu terhindar dari kemungkinan terjerumus lagi ke dalam maksiat yang sama, menimbulkan rasa sakit yang tak dapat diukur.
Kalaupun seseorang kemudian menjadi ahli taubat yang paling tulus sekalipun,  rasa sakit yang menghimpit kejiwaannya akibat penyesalan tersebut, sudah layak disebut sebagai salah satu bala cobaan yang harus dia rasakan di alam dunia ini. Dengan harapan,  hal itu akan menjadi salah satu pembuka pintu taubat dari Allah, Yang Maha Perkasa, Lagi Maha Pengampun.
Sang Ahli Kejiwaan Islam fenomenal, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah, kerap kali mengungkit persoalan spesifik sehubungan dengan balada maksiat, dalam banyak bukunya. Yakni akibat mengerikan yang muncul karena kebiasaan bergelimang maksiat, bercumbu dengan dosa dan bersukacita dengan pelanggaran terhadap hak-hak Allah. Salah satu akibatnya yang sangat menakutkan adalah rasa sesal yang menekan lubuk hati, mendera perasaan hingga pada sudut yang terdalam.
Maksiat, menurut Ibnul Qoyyim, salah satu dari faktor paling berbahaya terhadap kehidupan seorang hamba, di dunia maupun di akhirat. Namun sayang, banyak umat manusia yang melakukan tindak kekeliruan hebat, saat mereka mengabaikan bahaya maksiat itu,  dengan berbagai alasan spekulatif yang sangat tidak sehat.  Terkadang, mereka bersandar pada ampunan Allah. Terkadang pada keyakinan bahwa suatu saat mereka toh bisa bertaubat.  Di lain waktu, bisa saja ia yakin sudah membayar lunas dosa-dosanya, dengan sekadar ucapan istighfar melalui lisannya.  Amalan-amalan sunnah,  merasa diri sebagai orang berilmu, juga kerap dijadikan dukungan untuk bersikap santai menghadapi dosa-dosa. Tidak jarang juga, seorang hamba beralasan dengan prilaku banyak pemuka agama, orang-orang terpandang, atau mayoritas umat manusia,  untuk melegitiminasi sebuah maksiat. [Al-Jawabul Kafi Liman Sa-ala 'Anid Dawaisy Syafi hal. 11.]
Bila sekian alasan itu ditumpuk menjadi satu, dipupuk dan disemai, tumbuhlah sikap merasa aman terhadap segala ancaman dan peringatan Allah.  Saat itulah  muncul perseteruan hebat antara iman dengan kebiasaan, antara rasa takut kepada Allah,  dengan rasa berharap yang tidak pada tempatnya, antara tuntutan ilmu yang melekat kuat dalam benak,  dengan alasan-alasan kosong yang dipaksa untuk tampak berisi. 
Kondisi itulah yang --bagi orang beriman--  akhirnya melahirkan rasa sakit yang menghentak kuat ke dalam lubuk sanubari. Rasa pedihnya, teramat sulit diungkapkan. Jalan satu-satunya untuk meringankan rasa sakit itu hanya dengan menerjang kuat aral-aral penghambat menuju taubat yang tulus. Dan itu bukanlah hal yang mudah. Hanya dapat dilakukan seorang hamba dengan niat bersih, setelah adanya taufik dari Allah. 
Namun kalaupun itu dilakukan, dan kalaupun taufik Allah telah membuatnya mampu secara tulus bertaubat, rasa pedih dalam hati itupun tidak serta merta lenyap begitu saja. Ampas-ampas endapannya tetap menjadi ancaman serius yang kerap mendorong sebagian ahli taubat, untuk kembali menggeluti pelbagai maksiat yang sudah lama mereka tinggalkan.

Diambil utuh dari buku Aku Bukan Ahli Maksiat, PT. EFMS, Surabaya, Jawa Timur. Sudah saatnya Anda membeli dan membaca buku ini!


Related

Akhlaq 4197766146277159459

Posting Komentar

Komentar Anda sangat berharga bagi kami. Jika Anda mendukung gerakan kami, sampaikan dengan penuh motivasi. Jangan lupa, doakan kami agar istiqamah beramal dan berdakwah. Klik juga www.quantumfiqih.com dan goldenmanners.blogspot.co.id

emo-but-icon

Hot in week

Random Post

Blog Archive

Cari Blog Ini

Translate

Total Tayangan Halaman

Our Visitors

Flag Counter

Brilly Quote 1

Brilly Quote 2

Brilly Quote 3

item